MAKALAH DASAR-DASAR PEMBELAJARAN BIOLOGI TEORI BELAJAR NEUROSCIENCE

MAKALAH DASAR-DASAR PEMBELAJARAN BIOLOGI
TEORI BELAJAR NEUROSCIENCE
Disusun oleh :
KELOMPOK 5
Erisca Khoiriyah H.               ( 15320088 )
Yul Fatul Kholifah                 ( 15320038 )
Ainun Nadhifah                     ( 15320038 )
Diah Ayu R.                           ( 15320038 )
Ichsan Aji K.                          ( 15320038 )

Kelas : 3D
Dosen Pengampu : Prasetiyo, S.Pd, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, sebagai salah satu penugasan mata kuliah Dasar-Dasar Pembelajaran Biologi yang berjudul “Teori Belajar Neuroscience” .
Penulisan makalah ini selain bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah, juga dapat  memberikan informasi kepada pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran baik secara tertulis maupun secara lisan, khususnya kepada dosen pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Pembelajaran Biologi agar penulis bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya, khususnya memahami tentang mata kuliah ini.



Semarang, 20 Oktober 2016


Penulis

MAKALAH DASAR-DASAR PEMBELAJARAN BIOLOGI
TEORI BELAJAR NEUROSCIENCE
DAN MULTIPLE INTELEGENSI
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_gdq9XViOjhrp8LdSX5tzqmwv5UeF15Hfn-8I0-fuzs-K6e6DzLHnX3mG4Qoeu_Pl9gKktndrbKu5sL3vQ_S2sfO2rpVlmMyRg8HF9pcpeMOp9_nw7W0ZfxGUUQJZNzV9B-blt-38rHw/s1600/Logo_Universitas_PGRI_Semarang.jpg
Disusun oleh :
KELOMPOK 5
Ichsan Aji K.                          ( 15320005 )
Yul Fatul Kholifah                 ( 15320038 )
Erisca Khoiriyah H.               ( 15320088 )
Ainun Nadhifah                     ( 15320105 )
Diah Ayu R.                           ( 15320107 )
Kelas : 3D
Dosen Pengampu : Prasetiyo, S.Pd, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, sebagai salah satu penugasan mata kuliah Dasar-Dasar Pembelajaran Biologi yang berjudul “Teori Belajar Neuroscience dan Multiple Intelegensi” .
Penulisan makalah ini selain bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah, juga dapat  memberikan informasi kepada pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran baik secara tertulis maupun secara lisan, khususnya kepada dosen pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Pembelajaran Biologi agar penulis bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya, khususnya memahami tentang mata kuliah ini.



Semarang, 17 November  2016


Penulis



BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam era globalisasi dibutuhkan sekali manusia-manusia yang tangguh, yang memiliki kemampuan untuk bersaing. Manusia-manusia seperti ini dilahirkan dari orang-orang yang bermotivasi tinggi. Kesulitan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana akan mencetak manusia-manusia yang bermotivasi tinggi bila sebagian besar pusat pendidikan di Indonesia menggunakan gaya belajar yang mengikat peserta didik, dengan menyajikan informasi-informasi final yang seolah-olah sudah tidak dapat diubah lagi, peserta didik hanya menghafal informasi-informasi yang diberikan.
Sistem pembelajaran diruang kelas seringkali membuat peserta didik merasa jemu dan bosan, pada saat akan menghadapi ujian peserta didik akan merasa tertekan, tegang, bahkan menjadi lupa terhadap apa yang telah mereka pelajari. Tolak ukur tingkat keberhasilan peserta didik biasanya bagaimana seorang peserta didik itu mendapatkan nilai yang baik. Padahal sesusungguhnya yang dibutuhkan adalah kesadaran akan pentingnya belajar itu sendiri. Kesadaran belajar inilah yang akan menciptakan efektifitas belajar yang maksimal.
Begitu pula yang terjadi dalam proses pembelajaran di pergurun tinggi. Terkadang peserta didik tidak siap untuk belajar sehingga efektifitas pembelajaran tidak tercapai. Evektifitas belajar sangat ditentukan oleh lingkungan belajar yang dibangun dalam suatu proses pembelajaran, dimana lingkungan sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan belajar itu sendiri, dalam hal ini peserta didik. Kesadaran akan belajar harus dimulai dari kesiapan otak untuk memulai belajar.
Belajar akan terjadi bila otak siap untuk belajar. Semua tindakan belajar dipengaruhi oleh otak. Bila kondisi otak tidak siap untuk belajar, maka proses belajar tidak akan terjadi. Oleh sebab itu teori mengenai otak menjadi sangat popular di masa sekarang.

1.2  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.                  Apa yang dimaksud dengan teori belajar neuroscience?
2.                  Bagaimana mekanisme mengingat informasi?
3.                  Bagaimana implementasi teori belajar neuroscience dalam pembelajaran?
4.                  Apa kelebihan dan kekurangan teori belajar neuroscience?
5.                  Apa yang dimaksud dengan teori multiple intelegensi?
6.                  Apa saja karakteristik intelegensi/kecerdasan ganda?
7.                  Bagaimana implementasi teori belajar multiple intelegensi dalam pembelajaran?
8.                  Apa kelebihan dan kekurangan teori belajar multiple intelegensi?

1.3  Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian teori belajar neuroscience.
2.      Untuk mengetahui mekanisme mengingat informasi.
3.      Untuk mengetahui implementasi teori belajar neuroscience dalam pembelajaran.
4.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan teori belajar neuroscience dalam pembelajaran.
5.      Untuk mengetahui teori multiple intelegensi?
6.      Untuk mengetahui karakteristik intelegensi/kecerdasan ganda?
7.      Untuk mengetahui implementasi teori belajar multiple intelegensi dalam pembelajaran?
8.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan teori belajar multiple intelegensi?



BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Neuroscience

Menurut Markus, Neuroscience adalah ilmu yang mempelajari mengenai otak dan seluruh fungsi-fungsi syaraf belakangan ini telah berkembang menjadi Neuropsikiatri dan Neurobehaviour (penggabungan antara perilaku dan fungsi otak). Penggabungan ini didasari karena otak merupakan sumber dari pemikiran. Reaksi-reaksi diotak yang disebut Neurochemistry, Neurohormonal, Neuromekanikal merupakan sumber reaksi yang menggerakan otak kita untuk berfikir. Neuroscience disebut sebagai ilmu otak, karena mempelajari seluruh proses berfikir, sedang proses berfikir itu sendiri terkait ilmu pengetahuan, perilaku, attitude (tindakan) yang sangat luas cakupannya.
Teori belajar neuroscience adalah teori belajar yang menekankan pada kinerja otak yaitu tentang bagaimana keseluruhan proses berfikir, proses berfikir juga mencakup hal yang luas dari proses berpikir tersebut menghasilkan pengetahuan, sikap, dan prilaku atau tindakan. Teori ini mempelajari mengenai otak dan seluruh fungsi-fungsi syaraf. Teori ini juga mempelajari tentang berbagai macam penyakit pada otak. Bila kita tinjau ketika manusia dilahirkan manusia dianugrahi dengan otak yang sama, menurut Adi Gunawan (2006) otak terdiri dari sekitar satu triliun sel otak yang masing-masing terdiri dari sekitar seratus milyar sel otak active dan sisanya sekitar Sembilan ratus milyar adalah sel otak pendukung.  Namun mengapa tingkat kecerdasan manusia berbeda-beda itu disebabkan karena perbedaan dalam meningkatkan potensi yang telah dimiliki, kecerdasan manusia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah sel otak namun lebih kepada berapa banyak koneksi yang bisa terjadi antara masing-masing sel otak. Hal ini sangat penting terutama dalam proses belajar dan pembelajaran karena mampu atau tidaknya seseorang dalam menangkap informasi atau ilmu pengetahuan yang disampaikan ditentukan oleh kesiapan otak untuk menagkap informasi atau ilmu pengetahuan tersebut jika otak tidak siap maka proses pembelajaran tidak akan pernah terjadi oleh karena itu disini penulis akan sedikit memaparkan tentang bagaimana teori kerja otak atau neuroscience.
Pada dasarnya belajar adalah pembentukan hubungan-2 baru atr neuron-2, terjadi kompleksitas peningkatan cabang-2 dendrit dalam otak. Oleh sebab itu belajar dalam teori neurosciense sangat dipengaruhi kesiapan dalam belajar dan ligkungan belajar itu sendiri. Bila digambarkan alur informasi dalam teori neuroscience, adalah sebagai berikut:

Kesiapan dalam belajar tergantung dari bagaimana seseorang dapat memusatkan perhatian pada proses belajar itu sendiri. Intinya dalam proses pembelajaran perhatian peserta didik terpusat pada pesan yang disampaikan, maka akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Semakin baik perhatian peserta belajar, maka semakin baik pula hasil belajar yang dicapai. Begitu pula sebaliknya, jika siswa kurang perhatian, maka hasil belajar siswa akan menurun. Namun perhatian peserta didik dalam belajar sangatlah terbatas, perhatian tidak bertahan pada waktu yang lama. Untuk itu diperlukan strategi khusus agar perhatian peserta didik dalam belajar dapat bertahan dalam waktu lama.
Asri Budiningsih (2003: 123) mengemukakan beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian peserta didik, yaitu:
a.       Mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman atau kehidupan siswa.
b.      Menggunakan alat-alat pemusat perhatian seperti peta konsep, gambar, bagan, dan media-media pembelajaran visual lainnya.
c.       Penyajian pesan pembelajaran dengan urutan dari umum ke khusus.
d.      Menghubungkan pesan pembelajaran yang seadng dipelajari dengan topik-topik yang sudah dipelajari.
e.       Menggunakan musik penyeling, atau musik latar belakang (dalam hal pembelajaran melalui media audio).
f.       Bahasa yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan dan karakteristik peserta belajar.
g.     Menciptakan suasana riang dengan melakukan akting yang dramatis, mengejutkan, mendebarkan, dan sebagainya.
h.      Perubahan suara, irama, intonasi (misalnya dalam mengembangkan media pembelajaran, suara pelaku putra bergantian dengan suara pelaku putri.
i.        Penggunaan suara latar belakang (yang relevan dan benar-benar diperlukan).
j.        Teknik penyajian bervariasi (naratif diselingi dialog, diskusi, debat, dramatisasi, kunjungan ke lapangan dan sebagainya).
k.      Jika dalam program pembelajaran mencakup beberapa tujuan atau materi bahasan, perlu jelas tujuan dan materinya.
l.        Mengurangi bahan/materi yang tidak relevan.

2.2 Mekanisme  Mengingat Informasi

Teori kerja otak terkait dengan kerja otak kanan dan kiri. Cara yang sangat baik untuk menghormati keunikan otak dan perbedaan individual adalah dengan mempertimbangkan gaya pembelajaran. Ada banyak gaya pembelajaran yang tersedia sekarang ini. Masing-masing memiliki poin-poin yang kuat. Semuanya memiliki perbedaan dari hal proses input, filter kognitif, pemrosesan, dan gaya respon. Seluruh pemikiran tentang gaya pembelajaran menjadi tidak relevan ketika kita mempertimbangkan tentang seberapa banyak perbedaan yang berkembang dalam otak.
Empat kategori yang mencakup gaya pembelajaran yang dapat digunakan pada rancangan pembelajaran apapun :
1. Konteks
Keadaan yang melingkupi pembelajaran memberikan petunjuk-petunjuk yang penting tentang apa yang akan terjadi selama pembelajaran.
2. Input
Para pembelajar menuntut adanya sensori input untuk terjadinya pembelajaran apapun. Oleh karena kita mempunyai lima indra, maka input ini bisa berupa visual, audio, kenestetik, penciuman, dan perasa.
Pada suatu waktu seorang pembelajar mungkin lebih memilih input eksternal (yang berasal dari sumber dari luar) dan pada waktu berikutnya akan lebih memilih input internal (yang diciptakan dalam pikiran).
3. Pemrosesan
Sebuah rangkaian tindakan atau perubahan yang sistematis menyangkut informasi, kebersamaan rangkaian tersebut membentuk pemikiran manusia. Dalam tahap ini otak yang bertugas untuk memproses informasi tersebut.
4. Respons
Merupakan tahap dimana pembelajar menanggapi input atau rangsangan yang telah diterima dan diproses untuk dilakukannya sebuah respon atau tanggapan.
Proses berpikir dimulai dengan pengalaman, dalam bentuk sensasi, persepsi, dan informasi. Pengalaman-pengalaman ini masuk ke dalam sistem pemikiran manusia melalui apa yang disebut dengan detektor inderawi. Yang meliputi mata, telinga, hiung, mulut dan kulit. Agar mampu menghasilkan pemikiran dari pengalaman-pengalaman tersebut, maka pengalaman-pengalaman tersebut harus dikombinasikan dalam beberapa cara khusus yang sederhana.
Dalam bentuk teori pengolahan informasi, proses mengkombinasian pengalaman disebut dengan penyatuan inderawi, dan aspek pikiran manusia yang melakukan pengkombinasian menjadi unit-unit makna yang sesuai untuk proses pengolahan lebih lanjut. Pengalaman yang dipersatukan kemudian dikirim ke dalam ingatan jangka pendek, yang bekerja sebagai papan tulis atau media kerja yang mengolah aneka informasi agar didapatkan informasi sejati yang anda butuhkan. Ingatan jangka pendek dirujukkan sebagai aneka peristiwa berpikir singkat yang terjadi pada manusia.
Dari informasi jangka pendek tersebut dapat bersifat relatif permanen dengan adanya proses pemberian kode. Yang dimaksud dengan proses pemberian kode yaitu proses dengan adanya informasi baru diasosiasikan dengan kategori-kategori, gagasan-gagasan, atau informasi-informasi yang sudah ada sebelumnya, yang bertujuan untuk menguji kelayakan kategori, gagasan, atau informasi tersebut untuk disimpan di dalam ingatan jangka panjang. Ingatan jangka panjang seringkali membutuhkan bantuan ingatan jangka pendek untuk melakukan proses pemberian kode terhadap aneka informasi.
Sebagian kecil gagasan atau pikiran akan menyebabkan respon yang jelas yaitu tindakan atau perilaku nyata yang bisa diobservasi yang menjadi fokus dari teori-teori psikologi tertentu. Karena proses yang menyebabkan munculnya tindakan atau perilaku itu sendiri adalah sebuah proses berfikir yang disebut dengan penggerak respon.

2.3  Implikasi Teori Neuroscience dalam Pembelajaran

Teori kerja otak ini memiliki implikasi baik terhadap pengajar maupun pembelajar. Diantara implikasi tersebut yaitu:
1. Guru di tuntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi agar mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
2. Di butuhkannya variasi pada setiap pembelajaran yang dilakukan.
3. Dengan pembelajaran yang menyenangkan siswa akan mampu menerima informasi dengan baik dan akan masuk pada memori jangka panjang.
4. Siswa dalam mengolah informasi membutuhkan sebuah rangkaian panjang atas langkah-langkah yang harus dilakukan.

2.4  Kelebihan dan Kekurangan Teori Neuroscience Dalam Pembelajaran

1. Kelebihan Neuroscience
Rianawaty (2011) mengungkapkan bahwa sebagai suatu teori pembelajaran berbasis kemampuan otak (Neuroscience), tentu saja memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan-kelebihannya adalah sebagai berikut:
a.       Teori ini mendukung siswa mencapai apa yang diinginkan sesuai pada kemampuan kerja otaknya.
b.      Guru sebagai pengubah keberhasilan siswa.
c.       Memberikan suatu pemikiran baru tentang bagaimana otak manusia bekerja.
d.      Memperhatikan kerja alamiah otak si pembelajar dalam proses pembelajaran.
e.       Menciptakan iklim pembelajaran dimana pembelajar dihormati dan didukung.
f.       Menghindari terjadinya pemforsiran terhadap kerja otak.
g.      Keadaan lingkungan sekitar kondusif
h.      Dapat menggunakan berbagai model-model pembelajaran dalam mengaplikasikan teori ini. Dianjurkan untuk memvariasikan model-model pembelajaran tersebut, supaya potensi pebelajar dapat dibangunkan.

2. Kelemahan Neuroscience:
a.       Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang hanya otak belahan kiri.
b.      Siswa pemikirannya konvensional (fikiran yang berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima ramai sebelum ini).
c.       Guru kurang membantu siswa (apabila guru kurang memahami teori belajar yang berbeda pada masing-masing siswa) menemukan keinginan belajar, dan kurang mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan.
d.      Keadaan lingkungan kurang kondusif (minimnya fasilitas dan pengetahuan lingkungan masyarakat/orang tua tentang teori belajar neuroscience)
e.       Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengetahui tentang  teori ini karena masih baru.
f.       Memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk dapat memahami (mempelajari) bagaimana otak kita bekerja.
g.      Memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang baik bagi otak.
h.      Memerlukan fasilitas yang memadai dalam mendukung praktek pembelajarant teori ini.

2.5 Pengertian teori Multiple Intelegensi

Teori multiple intelligences adalah validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa (pelajaran) belajar, disamping pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Teori multiple intelligencesbukan hanya mengakui perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga.
Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan kemampuan intelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa (Gardner, 2003). Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa memang sudah mengakar dengan kuat pada diri setiap guru di dalam menjalankan proses belajar. Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Insan Kancil (Kompas, 13 Oktober 2003), pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderung mengambil porsi Sekolah Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanak mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak telah menekankan pada kecerdasan akademik, tanpa menyeimbanginya dengan kecerdasan lain. Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika (matematika) dan bahasa.

2.6 Karakteristik Intelegensi/Kecerdasan Ganda

1.    Linguistic Intelligence (kecerdasan linguistik) adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Kecerdasan Linguistik, umumnya memiliki ciri antara lain :
a)      Suka menulis kreatif,
b)      Suka mengarang kisah khayal atau menceritakan lelucon,
c)      Sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil,
d)     Membaca di waktu senggang,
e)      Mengeja kata dengan tepat dan mudah,
f)       Suka mengisi teka-teki silang,
g)      Menikmati dengan cara mendengarkan,
h)   Unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
2.    Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika merupakan kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Kecerdasan Matematika-Logis, cirinya antara lain:
a)      Menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala,
b)      Suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?,
c)      Ahli dalam permainan catur, halma dsb,
d)     Mampu menjelaskan masalah secara logis,
e)      Suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu
f)       Menghabiskan waktu dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam matematika dan ipa.

3.    Spatial intelligence (kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara dimensi. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan bayangan eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah, atau memodifikasi bayangan, mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan, dan menghasilkan atau menguraikan informasi grafik. Kecerdasan Spasial dicirikan antara lain:
a)      Memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu,
b)      Mudah membaca peta atau diagram,
c)      Menggambar sosok orang atau benda persis aslinya,
d)     Senang melihat film, slide, foto, atau karya seni lainnya,
e)      Sangat menikmati kegiatan visual, seperti teka-teki atau sejenisnya,
f)       Suka melamun dan berfantasi,
g)      Mencoret-coret di atas kertas atau buku tugas sekolah,
h)      Lebih memahamai informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian,
i)        Menonjol dalam mata pelajaran seni.
4.    Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh) memungkinkan seseorang untuk menggerakkan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani, memiliki ciri:
a)      Banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu,
b)      Aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya,
c)      Menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau kegiatan fisik lainnya,
d)     Memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti mengukir, menjahit, memahat,
e)      Pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang lain,
f)       Bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya,
g)      Suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi
h)      Berprestasi dalam mata pelajaran olahraga dan yang bersifat kompetitif.

5.    Musical intelligence (kecerdasan musik) jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki sensivitas pada pola titinada, melodi, ritme dan nada. Kecerdasan Musikal memiliki ciri antara lain:
a)      Suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah,
b)      Mudah mengingat melodi suatu lagu,
c)      Lebih bisa belajar dengan iringan musik,
d)     Bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang lain,
e)      Mudah mengikuti irama musik,
f)       Mempunyai suara bagus untuk bernyanyi,
g)      Berprestasi bagus dalam mata pelajaran musik.
6.    Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal) merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Kecerdasan Interpersonal memiliki ciri antara lain:
a)      Mempunyai banyak teman,
b)      Suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya,
c)      Banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah,
d)     Berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya
e)      Berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain,
f)       Sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain,
g)      Berbakat menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu sosial.
7.    Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal) merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Kecerdasan Intrapersonal memiliki ciri antara lain:
a)      Memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat,
b)      Bekerja atau belajar dengan baik seorang diri,
c)      Memiliki rasa percaya diri yang tinggi,
d)     Banyak belajar dari kesalahan masa lalu,
e)      Berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan
f)       Banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.

8. Naturalis intelligence adalah merupakan kemampuan untuk memahami gejala alam, anak dengan kederdasan ini mampu mengenali dan mengelompokan sejumlah binatang atau tanaman senag berhubungan dengan alam sepeti merawat tanaman atau binantang. Kecerdasan Naturalis, memiliki ciri antara lain:
a)      Suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan,
b)      Sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka,
c)      Suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang
d)     Menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam
e)      Suka membawa pulang serangga, daun bunga atau benda alam lainnya,
f)       Berprestasi dalam mata pelajaran ipa, biologi, dan lingkungan hidup.

2.7 Kelebihan dan Kekurangan Teori Multiple Intelegensi

1.    Kelebihan atau Keunggulan Strategi Multiple Intelligence adalah:
a.    Aktivitas pengajaran yang disesuaikan dengan ragam kecerdasan yang dimiliki oleh siswa sedikit banyak telah memunculkan semangat belajar dan rasa percaya diri pada setiap siswa. Siswa digali kreativitasnya agar mereka dapat mempelajari pelajaran sesuai dengan talenta yang ada pada mereka, misalnya melalui lagu, pantun, puisi, drama dan lain-lain.
b.    Melalui penerapan teori Multiple Intelligence dalam pembelajaran fisika misalnya telah menggugurkan anggapan bahwa pelajaran fisika (misal) itu sulit dan tidak menyenangkan. Karena melalui teori ini guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mempelajari fisika sesuai dengan ragam kecerdasan yang dimilikinya.
c.    Melalui teori Multiple intelligence ini pula siswa belajar untuk lebih menggali potensi yang ada pada dirinya dan dapat lebih menghargai talenta yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Selain itu siswa juga belajar untuk menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing, misalnya siswa yang biasanya dianggap bodoh karena selalu mendapat nilai buruk dalam pelajaran ternyata mampu membuat puisi dan menggubah syair lagu dengan konsep-konsep yang ada pada pelajaran tersebut dengan sangat indah.
d.   Metode ini juga sangat efektif karena mampu meningkatkan aktivitas dan kreatifitas siswa dalam bentuk interaksi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Bahkan interaksi ini lebih didominasi oleh interaksi antara siswa dengan siswa sedangkan guru hanya bersifat sebagai moderator saja. Tanya jawab antar siswa berjalan dengan sangat baik dan setiap penilaian yang diberikan oleh guru maupun siswa lainnya mampu memacu dirinya untuk lebih menggali konsep-konsep materi yang diajarkan sehingga menghasilkan rasa keingintahuan dan percaya diri yang tinggi.
e.    Lebih jauh lagi, melalui penerapan teori Multiple Intelligence dalam pembelajaran di sekolah diharapkan siswa dapat melihat kenyataan bahwa mereka itu “unik”. Tuhan menciptakan jutaan bahkan milyaran manusia dengan keunikan tersendiri. Mereka juga dapat melihat bahwa Tuhan sudah menyediakan laboratorium terbesar bagi mereka berupa alam semesta sehingga dengan kesadaran seperti ini maka kecerdasan spriritual (SQ) mereka juga akan ikut tergali. Oleh karena itu secara keseluruhan metode ini mampu menciptakan rasa belajar yang menyenangkan yang pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan minat dan motivasi siswa pada pelajaran. Indikator terakhir yang diharapkan tentu saja adalah adanya peningkatan nilai rata-rata kelulusan pada mata pelajaran yang ada umumnya.

2.    Kekurangan atau Kelemahan Strategi Multiple Intelligence adalah:
a.    Sedikitnya waktu pembelajaran yang tersedia sedangkan materi yang harus diajarkan sangat banyak. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikatakan bahwa guru memiliki kewenangan untuk memilih materimateri esensial yang akan diajarkan kepada siswanya, sedangkan kenyataannya adalah masih adanya tes bagi siswa (ujian nasional dan ujian sekolah contohnya), dengan soal-soal yang notabene bukan berasal dari guru yang bersangkutan. Sedang pemahaman tentang materi mana yang dianggap esensial dan materi mana yang kurang esensial bagi setiap guru bisa saja berbeda-beda. Akhirnya, mau tidak mau guru harus mengajarkan semua materi yang ada dalam buku paket.
b.    Penerapan teori Multiple Intelligence dalam proses pembelajaran fisika misalnya akan membuat siswa tidak hanya duduk “manis” mendengarkan ceramah dari guru. Siswa diberi keleluasaan untuk mencari tempat dimana mereka akan belajar. Jadi proses belajar mengajar tidak selalu dilakukan di dalam kelas tetapi bisa di lapangan, ruang laboratorium atau perpustakaan. Adakalanya ketika siswa berada dilapangan untuk mempraktekkan sesuatu, hal tersebut ikut memancing keingintahuan siswa yang sedang belajar di kelas lain sehingga guru-guru yang lain (mungkin) merasa terganggu.
c.    Penerapan teori Multiple Intelligence dalam ruang kelas juga memungkinkan terjadinya diskusi hangat dalam kelas. Adakalanya siswa berteriak atau bertepuk tangan untuk mengungkapkan kegembiraannya ketika mereka mampu memecahkan suatu masalah. Hal ini juga dapat menggangu konsentrasi guru dan siswa yang berada di kelas lain.
d.   Adanya keengganan dari para guru untuk mengubah paradigma lama dalam pendidikan. Kebanyakan guru sudah merasa nyaman dengan metode ceramah sehingga mereka enggan untuk mencoba hal-hal yang baru karena dianggap merepotkan.

 2.8 Implementasi Teori Multiple Intelegensi

Dalam menerapkan teormi multiple intelligence dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dalam tiga bentuk utama yakni; orientasi kurikulum, metodologi pengembangan pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran.
1.    Orientasi Kurikulum
Kompentensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep multiple intelligence dalam kurikulum adalah sebagai berikut:
a.    Multiple intelligence berkenaan dengan kemampuan peserta didik dalam melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.
b.    Multiple intelligence menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui peserta didik untuk menjadi standart kompentensi.
c.   Multiple intelligence merupakan hasil belajar (leraning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan peserta didik setelah melalui proses pembelajaran.
d.   Kehandalan kemampuan peserta didik melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.
e.    Penyusunan standar kompetensi, kompetensi dan hasil belajar hendaknya didasarkan pada kecerdasan jamak yang ditetapkan secara proporsional, tidak melulu hanya apsek kognitif atau spritual belaka tetapi seimbang dan tepat sasaran.
2.    Pengembangan Metodologi Pembelajaran
a. Metode bercerita, adalah salah satu bentuk untuk mengembangkan intelligence lingusitic, dimana siswa diajak menyenangi dan mencintai bahasa, dimana siswa dapat menikmati suara dari kata kata, menghargai dan memakai kekuatan dengan penuh tanggung jawab.
b. Problem solving, Siswa dihadapkan pada masalah konkret. Misalnya adanya perkelahian antar pelajar, sering terlabat sekolah, prestasi kelas merosot, komunikasi dengan guru kurang lancar. Metode ini dapat mengasah kecerdasan interpersonal
c. Reflective thinking/critical thinking, siswa diajak untuk membuat catatan refleksi atau tanggapan bahan-bahan tersebut. Bahan-bahan bisa diplih sendiri oleh siswa. Cara ini dapat mengembangkan kecerdasan bodily kenisthetic, juga inteersonal intligence.
d. Group dynamic, siswa dibimbing untuk kerja kelompok secara kontinyu dalam mengerjakan suatu proyek tertentu. Metode ini dapat diterapkan untuk mengembangkan kecerdasan logical mathematical, dan kecerdasan interpersonal.
e. Community bulding, siswa satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan aturan, tugas, hak, dan kewajiban yang mereka atur sendiri secara demokratis. Cara ini dapat dikembangkan untuk membangun kecerdasan intrapersonal.
f. Responsibility building, siswa diberi tugas yang konkret dan diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur. Cara ini juga dapat dikembangkan untuk membangun kecerdasan intapersonal.
g. Kerja individu dan kelompok, proses pembelajaran pada intinya adalah pemberian layanan kepada setiap individu siswa agar mereka berkembang segara maksimal sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Cara seperti di atas dapat dikembangkan oleh guru untuk membangun kecerdasan siswa dalam bidang interpersonal, juga kecerdasan bodlily kinesthetic.
h. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental, banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM’. Cara seperti ini dapat mengembangkan berbagai kecerdasan seperti kecerdasan lingustic, kecerdasan bodily kinethetic, dan bahkan kecerdasan interpersonal.

3.    Pengembangan Evaluasi Hasil Pembelajaran
a.    Evaluasi dikembangkan dengan prinsip untuk memberikan informasi kemajuan belajar siswa dalam berbagai bidang intelligensi (kecerdasan jamak). Hal ini sudah harus tergambar sejak dalam perencanaan pembelajaran pengembangan kegiatan pembelajaran.
b.   Bentuk evaluasi harus dikembangkan dengan berbagai macam yang dapat mengakomodir kecerdasan yang sangat kompleks, baik itu kecerdasan dalam lingusiti, logical mathematical, interpersonal dan lain sebagainya. bentuk tes soalujian harus diiringi dengan tugas, jadi nilai praktek dan nilai sehari hari sangat besar perannya dalam penentuan keberhasilan belajar.
c.    Proses penilaian benar benar berbasis kelas dan berangkat dari potensi apa yang dimiliki anak, kemudian kecerdasan apa yang tepat untuk dikembangkan pada dirinya. Artinya kompetensi yang ditetapkan oleh guru dalam tujuan pembelajaran juga harus diiringi dengan pertimbangangan lain dimana masing masing anak memiliki keunikan yang khas, sehingga pengukuran kecerdasannyapun membutuhkan ciri khas.



BAB III

PENUTUP

1.2  Kesimpulan

Teori kerja otak adalah teori yang mengutamakan kinerja otak baik otak kanan ataupun otak kiri, karena keseimbangan kinerja keduanya akan berpengaruh terhadap pola pikir, kreativitas, dan kemunculan ide-ide baru. Dalam hal ini informasi yang diperoleh akan diproses melalui beberapa tahapan sehingga memunculkan tindakan atau perilaku sebagai respon. 
Setiap siswa memiliki keunikannya masing-masing. Mereka memilikikecerdasan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Pandanganyang menyatakan bahwa kecerdasan seseorang dapat dilihat berdasarkanhasil tes IQ sudah tidak relevan lagi karena tes IQ hanya membatasi padakecerdasan logika (matematika) dan bahasa. Saat ini masih banyak sekolahyang terjebak dengan pandangan tradisional tersebut. Masih banyak guruyang hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa.Teori Multiple Intelligences, mencoba untuk mengubah pandangan bahwakecerdasan seseorang hanya terdiri dari kemampuan Logika (matematika dan bahasa).
Multiple Intelligences memberikan pandangan bahwa terdapatsembilan macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang. Yang membedakanantara yang satu dengan yang lainnya adalah komposisi atau dominasi darikecerdasan tersebut. Teori Multiple Intelligences mampu menjembatani proses pengajaran yangmembosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang menyenangkan danSiswa tidak hanya dijejali oleh teori semata. Mereka dihadapkan padakenyataan bahwa teori yang mereka terima memang dapat ditemui di dalamkehidupan nyata dan dapat mereka alami sendiri sehingga mereka memilikikesan yang mendalam. Selain itu proses pendidikan dapat mengakomodirsetiap kebutuhan siswa dan sesuai dengan keunikannya masing-masing.Jika sekolah ingin menerapkan

1.3  Saran

1. Dalam melaksanakan belajar mengajar sebaiknya seorang guru dituntut untuk berkreasi atau memiliki strategi dalam mengajar apalagi disini guru sebagai pusat perhatian dan fasilisator inspiratif.
2. Guru dan orang tua harus bersinergi agar memiliki pandangan yang sama didalam memberikan pendidikan bagi anak sesuai dengan kebutuhan dankeunikannya masing-masing






DAFTAR PUSTAKA

·         Gardner, Howard. 2003. Multiple intelligences (Kecerdasan Majemuk). Batam: Interaksara
·         Rianawaty, Ida. 2011. Teori Neuroscience, (Online), (http://idarianawaty.blogspot.com/2011/02/teori-neuroscience.html), diakses tanggal 03 November 2011
·         Seifert, Kelvin. 2012. Pedoman Pembelajaran & Intruksi Pendidikan. Yogyakarta: Rineka Cipta
·         Udin S. Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
·         Wade, Carole dan Tavris, Carol. 2008. Psikologi. Jakarta: Erlangga
·         Winarno, E. M. 1994. Belajar Motorik. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Malang
·         Jurnal Neuroscience.2011


Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH LANDASAN PENDIDIKAN SISTEM PENDIDIKAN FINLANDIA

ORGAN EKSKRESI HATI